Rabu, 11 Agustus 2010

SEPATU UNTUKMU part 1

     “Apaan nih? Sepatu butut kayak gitu aja dipake ke sekolah!” ejek Adit pada Arya. “Minta bapakmu buat beliin sepatu kayak punyaku ini dong!” lanjutnya sambil menginjak sepatu Arya.
     “Mana mungkin bapaknya bisa beli sepatu mahal seperti punyamu Dit, bapaknya aja cuma pemulung!” celetuk Dika, salah satu teman dekat Adit, diiringi tawa Adit dan semua teman-teman dekatnya.
     Diperlakukan seperti itu Arya hanya diam saja. Ia hanya menunduk memandangi ujung kakinya yang terbungkus kaos kaki kumal menyembul dari ‘jendela’ sepatunya. Dengan langkah gontai cowok jangkung nan cakep itu menuju tempat duduknya dan terdiam. Nita dan Reza, teman Arya yang melihat kejadian tersebut, tak tahan melihat raut mukanya seperti itu. Mereka menghampiri dan berusaha menghiburnya.
     “Udahlah, Ar. Biarin aja Adit itu!” ujar Nita yang diamini oleh Reza.
     “Adit tuh cuma iri sama kamu. Kamu dulu kan pernah ikut lomba lari dan berhasil jadi juara satu kan, sedangkan Adit yang juga ikut lomba itu enggak dapat juara. Sejak saat itu kan dia selalu jahilin kamu” tambah Reza. Banyak pertanyaan berkecamuk di batin Arya. ‘Apa kalau aku tak punya sepatu bagus aku tak boleh sekolah? Apa kalau bapakku pemulung itu jadi masalah? Mengapa Adit begitu tak suka padaku? Apa salahku? Apa gara-gara ia tak memenangkan lomba itu dia jadi dendam padaku?’ Kepala Arya terlalu berat untuk memikirkan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan tadi.
     ‘Jam pelajaran pertama akan segera dimulai!’ bunyi bel modern di SMPN 3 KEDIRI berbunyi, menandakan jam pelajaran pertama akan segera di mulai. Tak lama kemudian murid-murid bergegas masuk ke kelas masing-masing.
     “Tuh bel udah bunyi, buruan gih kalian
duduk ke bangku masing-masing, ntar Pak Gianto keburu masuk lho” suruh Arya.
     “Kamu yakin nggak apa-apa?” Nita ingin memastikan keadaan sahabatnya.
     “Iya aku nggak apa-apa kok. Kalian tenang saja.”
     Tak lama kemudian Pak Gianto masuk ke kelas VIII D, kelas di mana Nita, Arya, dan Reza menuntut ilmu. Pak Gianto masuk ke kelas dengan wajah sumringah dan senyum yang lebar. Kontras sekali bila melihat Pak Gianto saat diam. Terasa killer dengan kumisnya yang lebat.
    “Selamat pagi anak-anak” sapa Pak Gianto. “Selamat pagi juga Pak!” jawab anak-anak kelas VIII D.
     “Hari ini bapak membawa sebuah berita yang menggembirakan,” kata Pak Gianto sambil membenahi letak kacamatanya. “Hari ini bapak akan mengumumkan peserta yang lolos seleksi menjadi peserta PASKIBRA tingkat kota untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus nanti.
     “Yang lolos seleksi mewakili sekolah kita adalaaaah…….” Pak Gianto sengaja menggantungkan kata-katanya. Pada saat itu Adit berbisik-bisik pada teman-temannya. Ia yakin bahwa dialah yang terpilih.
     “Arya Raditya!!!!” bersamaan dengan itu Adit berdiri dengan percaya diri sehingga teman-teman sekelasnya melihat tingkah lakunya, termasuk Arya dan Pak Gianto. “Kenapa kamu berdiri, Dit?” tanya Pak Gianto penasaran.
     “Kan yang lolos seleksi itu saya, Pak,” ujar Adit dengan penuh percaya diri.
Melihat tingkah muridnya yang salah paham tersebut Pak Gianto hanya tersenyum. Dengan hati-hati Pak Gianto menjelaskan bahwa yang lolos seleksi adalah Arya. Tak lupa juga Pak Gianto menasehati Adit agar tak berkecil hati. Mendengar penuturan tersebut muka Adit berubah menjadi pinky karena menahan malu.
     “Selamat ya Arya, bapak berharap kamu dapat memberikan yang terbaik untuk sekolah kita.” kata Pak Gianto. Arya tersenyum sambil mengangkat wajahnya, kemudian menunduk lagi. Matanya terarah pada lubang di sepatunya. Kini di mata Arya, lubang sepatu itu seperti menyunggingkan senyuman mengejek. Selain itu, ia juga memikirkan biaya yang akan ia keluarkan untuk membeli seragam PASKIBRA.
    “Baiklah anak-anak, sekarang kita mulai pelajaran bahasa Indonesia. Kali ini kita akan membahas cara membuat cerpen……………” Pak Gianto memulai pelajaran hari itu dengan tatapan mata dan senyuman bersahabat. Anak-anak memperhatikannya, termasuk Arya yang sedang menyalin tulisan Pak Gianto yang ada di papan putih. Namun, ia tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan penuh kebencian. Ya, mata Adit....... (To Be Continue)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar