Selasa, 21 Desember 2010

SEPATU UNTUKMU Part 3

Arya termenung. Ia sedang memikirkan cara agar tabungannya dapat segera penuh.
“Kenapa aku tak membantu tetanggaku saja  ya? Kan lumayan kalau dapat upah, bisa ditabung. Syukur-syukur kalau nanti uangnya cukup untuk membeli sepatu.” pikirnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia bertekad menawarkan jasa. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya ia mendapat pekerjaan yaitu membantu Eyang Sastro mengurus taman. Hatinya
berbunga-bunga, lebih-lebih pekerjaannya, tidak bertabrakan dengan jadwal latihan, karena dia membantu Eyang Sastro dari jam 3 hingga jam 5 sore.
Keesokan harinya, setelah pulang latihan PASKIBRA, ia makan, istirahat sebentar, kemudian ia berangkat ke rumah Eyang Sastro. Rumahnya hanya berjarak 3 rumah dari rumah Arya.
“Assalamualaikum” salam Arya. “Waalaikumsalam” dari dalam terdengar suara Eyang Sastro menjawab salam Arya. “Mari masuk, Nak”
“Terima kasih Eyang,” Arya menjawab ajakan Eyang Sastro. Ia masuk ke halaman Eyang Satro. Ia tertegun, betapa rapinya halaman rumah ini. Taman luas nan indah membuat  Arya terkesima.
“Mari duduk, Nak” Eyang Sastro mempersilahkan Arya untuk duduk di gazebo yang terletak di tengah-tengah taman tersebut.
“Terima kasih Eyang” ucapnya kikuk.
“Membantu Eyang mengurusi taman tiap sore selama 15 hari apa tidak mengganggu pelajaran Nak Arya?” tanya Eyang Sastro.
Nggak kok Eyang, kan saya membantu Eyang mulai jam 3 sore hingga jam 5 sore sedangkan saya mulai sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 1 siang”  ujar Arya memantapkan.
“Ya sudah kalau begitu, kita mulai sekarang ya. Kamu siram dan beri pupuk semua tanaman yang ada di halaman ini kalau nanti ada rumput yang mengganggu, kamu bersihkan sekalian.”
“Baik Eyang,” Arya segera mengambil peralatan yang dibutuhkan disudut taman.
Waktu demi waktu ia lalui. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
“Eyang semua sudah beres. Semua tanaman di sini sudah saya siram dan saya pupuk” lapor Arya.
“Terimakasih, Nak. Eyang lihat kerja kamu bagus juga. Kalau begitu kamu boleh pulang dan ini untuk kamu,” Eyang Sastro memberikan sebuah amplop putih pada Arya. Dengan malu-malu Arya menerimanya. “Terimakasih banyak Eyang. Terimakasih,” ucap Arya sambil mencium tangan Eyang Sastro.
“Iya nak, harusnya Eyang yang berterimakasih pada kamu. Soalnya kamu sudah mau membantu Eyang di sini.”
“Iya Eyang. Kalau begitu saya pamit dulu Eyang. Assalamualaikum”
Sesampainya di rumah, bapaknya penasaran karena tidak biasanya Arya jam 5 sore baru pulang.
“Arya, habis dari mana kamu?”
“Dari rumah Eyang Sastro Pak” jawab Arya.
Ada apa di rumah Eyang Sastro?”
“Arya disuruh bantuin Eyang Sastro ngrawat tanaman” kata Arya jujur
“Ya sudah kamu mandi dulu sana,”
“Iya Pak” tak lama kemudian terdengar guyuran air dari kamar mandi.
Aktivitas seperti itu dilaluinya tiap pulang latihan hingga 2 minggu. Pada hari terakhir membantu Eyang Sastro ia segera pulang dan menuju ke  kamar mengecek tabungannya. Ia  angkat tabungannya, terasa berat. Tanpa sepengetahuan bapaknya Arya memecahkan tabungannya dan menghitung hasilnya.
“Seribu…Duaribu…Sepuluh ribu…. Delapan puluh ribu!!!!” Arya senang sekali. Akhirnya keinginannya untuk membeli sepatu kesampaian.
“Hai Arya! Gimana latihannya.” sapa Reza setelah Arya duduk di bangkunya.
“Ya capek, seneng, campur-campur deh pokoknya.” kata Arya. “Oh ya, mumpung aku inget lusa anterin aku  ke toko sepatu ya, Za!”
“Iya deh, aku siap!!!” kata Reza sambil bergaya hormat.
“Makasih ya Za…,” ucap Arya
Sepulang sekolah, Arya mendapati bapaknya sedang berbaring di bale-bale rumahnya dengan berselimut sarung.
“Bapak??? Badan Bapak panas sekali!!” kata Arya khawatir
“Bapak tidak apa-apa kok. Sudah tenang aja. Tolong ambilkan obat demam di atas lemari kamar Bapak.” Dengan sigap Arya mengambilkan obat yang dimaksud oleh bapaknya.
“Ini Pak obatnya. Tapi Bapak sudah makan kan?” tanyanya sambil menyodorkan obat demam.
“Sudaah… Bapak sudah makan?” jawabnya singkat. Meskipun begitu, hati Arya tetap khawatir. Sehingga semalaman ia tak bisa tidur.
Keesokan harinya,  dengan wajah kusut Arya berangkat sekolah.
“Eh Arya, kenapa kok wajahmu kusut begitu?” tanya Nita.
“Bapakku sakit, Ta.” jawabnya datar
“Yang bener? Aku turut sedih ya. Aku cuma bisa mendoakan saja.”
“Iya gak apa-apa kok”
Setelah jam sekolah selesai Arya bergegas pulang, ia ingin segera tahu bagaimana keadaan bapaknya.
“Bapak.., gimana keadaan Bapak?” tanya Arya cemas.
“Masih tetap seperti kemarin, Le”jawab Bapaknya tak
bergairah. Arya kemudian bertekad memeriksakan bapaknya ke dokter. Tapi apa daya, ia tak punya uang untuk berobat. Beberapa saat kemudian ia teringat bahwa ia masih mempunyai uang simpanan. Tanpa berpikir  lama ia bermaksud membawa bapaknya ke dokter.
“Bapak sekarang ikut saya ke dokter ya” ajak Arya.
“Tapi Bapak tidak punya uang nak ,” tolak bapaknya
“Pakai saja uang Arya dulu Pak. Darimana Arya dapat uang, biar Arya ceritakan nanti.” Arya segera membawa bapaknya ke dokter. Setelah berobat  kesehatan bapaknya berangsur-angsur pulih.
“Arya yuk aku antar ke toko sepatu” Reza memenuhi jajinya kemarin lusa untuk mengantar Arya membeli sepatu sepulang sekolah
“Maaf ya, aku nggak bisa.” Arya membatalkan acara beli sepatunya.
“Kenapa?” tanya Reza. “Uangku sudah habis buat biaya berobat Bapakku” ucapnya lirih. Raut wajah Reza ikut sedih.
“Ah… aku punya ide. Yuk, kita pinjam.” celetuk Reza.
“Tapi pinjam sama siapa?” pada saat bersamaan Adit lewat.
“Kita pinjam Adit yuk” cetus Reza. “Jangan, aku nggak mau berurusan lagi sama dia” tolak Arya
“Kalau nggak dicoba bagaimana bisa tahu.” ujar Reza. “Adit!!!!” Reza berteriak pada Adit sebelum mendengar persetujuan Arya. Setelah itu Reza mengutarakan maksudnya  untuk meminjam sepatu. Ketika  ditanya untuk siapa, Arya menjawab bahwa sepatunya itu untuk dipakainya. Seketika Adit menolak mentah-mentah. Reza kaget. Diperlakukan seperti itu Arya merasa tersinggung dan berlari pulang. Ketika Reza tersadar dari kekagetannya . Arya sudah tak ada disebelahnya. Setelah itu Reza segera ke ruang guru untuk menemui Pak Gianto. Dia menceritakan semua yang sudah terjadi selama ini dan juga menceritakan apa yang sudah dilakukan Adit pada Arya.
Mendengar penuturan dari Reza, Pak Gianto merasa iba. Bersama Reza, Pak Gianto ke toko sepatu saat itu juga untuk membelikan sepatu Arya.
Sementara itu Arya menceritakan semua keluh kesah yang sudah ia alami sejak  dinyatakan lolos seleksi sebagai peserta PASKIBRA kepada bapaknya.
“Oalah, Le…. Seharusnya kamu ya bilang ke bapak kalau kamu butuh uang untuk beli sepatu, pasti bapak usahakan. Ya sudah besok Bapak akan bicara dengan Bapak Gianto.” Bapaknya memberi keputusan.
“Pak, maafkan Arya.”
“Belum minta maaf pun bapak sudah memaafkan” kata Bapaknya. Kepala Arya terasa berat, pusing. Dia jatuh sakit. “Pak, besok saya tidak masuk sekolah saja ya” pinta Arya. “Iya. Besok biar bapak yang izinkan kamu. Sekalian ingin bicara dengan Pak Gianto.”
Tanggal 17 Agustus sudah hampir dekat. Namun, Arya malah tidak masuk sekolah. Pak Gianto kaget ketika mendengar penuturan dari orang tua Arya bahwa Arya mengundurkan diri. Segera Pak Gianto mengajak Reza dan Adit ke rumah Arya untuk membujuk Arya agar tetap menjadi PASKIBRA.
“Arya….!!! Arya….!!!” Arya tersentak mendengar ada yang memanggilnya. Dia membuka pintu. Bapaknya terlihat sedang berbincang-bincang dengan Pak Gianto. Dan lebih mengejutkan lagi Reza membawa sepasang sepatu untuknya!!! Arya lebih terkejut lagi dengan kedatangan Adit yang datang bermaksud minta maaf karena selama ini dia sudah jahat dengan Arya.
Tepat tanggal 17 Agustus, Arya mengibarkan Bendera Merah Putih dengan gagah. Kini, senyum selalu menghiasi wajahnya.




SEPATU UNTUKMU part 1
SEPATU UNTUKMU part 2
Download full version Click here

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar